Postingan

Menampilkan postingan dari 2016
DENDAM D endam itu benar-benar membusuk. Entah bila aku akan sadar. Mereka tidak berdosa, Kawan. Lalu mengapa kubunuh? Pedulikah? Yang terpenting aku senang. Namun, kesenangan ini sama sekali tak pernah cukup juga. Lihatlah mayat ini, Nampak buruk sekali, amat menjijikkan. Dan tanganku, penuh dengan darah. Akukah yang melakukan ini? Tentu. Tengoklah parang yang kugenggam. Sadarkah aku ketika aku menghujam mereka? Aahh.. aku selalu saja seperti ini. Setiap kali mengingat wajah itu.. tawa itu.. dan…darah itu! ***      “Abi, lihat ini! Aku berhasil membuat alat penerjemah bahasa.” Burhan langsung menunjukkan alat yang ia buat.     “Sungguh kamu yang membuat ini, Nak? Bagaimana mungkin? Jenius sekali anak Abah. Subhanallah…..” ujarku banggasambil mengelus kepalanya.      “Iya, Abi. Burhan ingin berdakwah dengan alat ini.”      “Berdakwah denagan ini? Seperti apa?”     “Kita kan sekarang ada di negara orang lain. ...
Pemilik Mata Teduh Salahkah aku bila memilih jalan ini? Penyesalan kini menyiksa batinku. Aku hanya ingin menyalurkan ilmuku saja di sini. Lihatlah anak-anak ini, kasihan sekali. Selama ini apakah mereka diberi ilmu dengan sempurna? Atau orang-orang itu hanya mengajar sekenanya setelah itu berlalu? Tidak sadarkah mereka telah melantarkan hak asasi anak-anak malang ini. Hak mereka untuk berilmu lebih luas. Apakah aku adalah satu-satunya harapan mereka di sini. Hei, ketahuilah anak-anak ini selalu riang bila melihatku. Mereka bahkan ingin berlama-lama denganku, tak ingin aku pergi. Tatapan mereka teduh seakan mengatakan, “Ustad, tetaplah di sini. Bantu kami untuk meraih mimpi!”. Aku adalah guru baru di sini. Satu-satunya orang yang dikucilkan. Dewan guru di sini menganggap aku orang yang aneh. Mungkin karena aku berbeda dengan mereka. Bukan aku tak mau bergaul dengan mereka. Hanya saja aku tidak suka dengan cara mereka bergaul, entah itu dari segi topik yang diobrolkan, atau...