DENDAM D endam itu benar-benar membusuk. Entah bila aku akan sadar. Mereka tidak berdosa, Kawan. Lalu mengapa kubunuh? Pedulikah? Yang terpenting aku senang. Namun, kesenangan ini sama sekali tak pernah cukup juga. Lihatlah mayat ini, Nampak buruk sekali, amat menjijikkan. Dan tanganku, penuh dengan darah. Akukah yang melakukan ini? Tentu. Tengoklah parang yang kugenggam. Sadarkah aku ketika aku menghujam mereka? Aahh.. aku selalu saja seperti ini. Setiap kali mengingat wajah itu.. tawa itu.. dan…darah itu! *** “Abi, lihat ini! Aku berhasil membuat alat penerjemah bahasa.” Burhan langsung menunjukkan alat yang ia buat. “Sungguh kamu yang membuat ini, Nak? Bagaimana mungkin? Jenius sekali anak Abah. Subhanallah…..” ujarku banggasambil mengelus kepalanya. “Iya, Abi. Burhan ingin berdakwah dengan alat ini.” “Berdakwah denagan ini? Seperti apa?” “Kita kan sekarang ada di negara orang lain. ...
Postingan
Menampilkan postingan dari Oktober, 2016