AJARAN
UNTUK KEHORMATANKU 1
“Leenaile,
tugasmu kali ini adalah menemui pemimpin dari perusahaan K Mix yang baru.”
“Baru?
Perusaahan itu, ia bukan termasuk shadow
economy, bukan?”
“Ya,
benar sekali. Tapi mereka adalah perusahaan yang sekarang sedang melambung
tinggi semenjak dipimpin oleh anak dari pemilik yang dulu.”
“Terus
kenapa? Ayah, mereka bukan bagian dari golongan kita. Cara mereka dengan kita
amat jauh berbeda.” Aku tidak habis pikir dengan tindakan Ayah.
“sayang,
kau harus tahu, bahwa perusahaan mereka telah menggeser posisi perusahaan kita.
Keramik mereka dan barang – barang antik mereka luar biasa, sudah merajalela
hingga ke Tiongkok dan Cina.”
“Kan
sama, kita juga, bahkan kita sampai ke Afrika.” Kataku santai.
“Ayolah,
mana Leenaile ayah yang selalu cerdas mengkritisi sesuatu. Ayah merindukan
itu.” Aku menghela napas.
“Baiklah
Ayah. Leenaile segera menjalankan misi ini. Maafkan Leenaile yang tadi mendebat
Ayah. Leenaile hanya tidak ingin Ayah terjerumus lebih dalam lagi. Jujur saja, Leenaile
lelah. Tapi bagi Leenaile, patuh pada Ayah adalah ibadah. Dan Ayah adalah Tuhan
bagi Leenaile.” Aku memeluk Ayah sambil meneteskan air mata.
Aku
segera bersiap diri dan berangkat menuju kantor pusat K Mix. Aku berjalan
menuju ruangannya. Beberapa orang menghalagiku untuk masuk.
“Maaf,
Mbak. Bapak Ali masih sholat. Anda bisa menunggu di ruang tamu terlebih
dahulu.” Perempuan berkerudung ini berusaha keras untuk tidak membiarkan aku
masuk ke ruangan yang ingin kumasuki.
“Haduhh.
Repot banget sih. Sama aja lagian.” Aku membuka pintu, wanita ini semakin erat
menarikku. Akhirnya dengan jengkel aku putar tangnnya, lalu ku timpuk dengan
sikuku. Dia jatuh tengkurap. Aku segera mengangkatnya ke kursi yang berada
tidak jauh dari ruangan ini. Untungnya, tidak ada orang yang lewat ketika aku
melemahkannya. Aku memasuki ruangan. Bersih, sejuk sekali. Aku meneliti
sekitar, terlihat ada seseorang yang sedang duduk dengan mata terpejam. Aku
menunggunya. Tak lama beberapa detik keudian, dia menoleh ke kanan dan ke kiri.
Aku mengernyitkan kening. Tapi dia tak langsung beranjak, dia masih menadakan
tangan sembari terpejam dan berbisik layaknya orang yang melantunkan sebuah
mantra. Aku tersenyum, lucu sekali bagiku. Namun aku tak berani bersuara. Takut
mengganggu.
Akhirnya
dia bangun juga. Tersenyum padaku. Aku membalas senyumnya, sambil mengulurkan
tangan. Dia mengatupkan kedua tangannyadengan senyumnya yang masih melekat. Aku
sedikit kecewa, tapi aku bisa mengendalikannya. Setidaknya, senyumnya yang dari
tadi menawanku bisa membuatku maklum, walau aku sama sekali tidak paham apa
alasan dia menolak jabatanku. Ya, mungkin dia canggung berjabatan dengan wanita
cantik sepertiku.
“Ehm, Anda, Bapak Ali
Reklaw, bukan?”
“Iya, Anda siapa, dan apa tujuan Anda menemui saya?”
“Iya, Anda siapa, dan apa tujuan Anda menemui saya?”
“Saya Leenaile. Leenaile
Eelanel.”
“Anda Leenaile, seorang
agen dari FBI yang menuntaskan kasus pembunuhan menteri kebudayaan.” Aku
mengangguk. Dia ternyata kenal padaku.
“Wah, kantor saya
didatangi seorang agen. Ada apa ya? Apakah perusahaan saya ada masalah?”
tanyanya dengan wajah serius. Aku tertawa demi melihat ekspresinya.
“Tentu saja bukan itu,
Pak. Saya bukanlah manusia yang di mana – mana berperan sebagai agen. Saya
ingin berdiskusi tentang perusahaan Bapak. Apakah Bapak mengenal seorang
pengusaha yang bernama Bukman Ival?”
“Tentu, bukankah dia
adalah seorang pengusaha dari golongan shadow
economy? Memang ada apa?”
“Begini, Bapak Bukman
Lavi adalah ayah saya. Saya diutus olehnya untuk menyampaikan tawaran pada Anda
mengenai penjualan barang antik dan keramik. Ayah saya hendak mengajak Andak
untuk bekerjasama dengan ayah saya. Anda akan mendapatkan lebih banyak dari
yang sekarang Anda dapatkan.”
Setelah mendengar kata –
kataku, dia diam. Aku menunggu jawaban darinya.
“Maaf,
saya tidak bisa menerima tawaran ini. Karena saya ingin jujur dalam setiap
usaha saya. Saya tak ingin menghalalkan segala cara hanya untuk meraih dunia
yang fana. Saya menjalankan perusahaan ini dengan niat ibadah karena Allah.
Allah tak akan mengizinkan saya untuk melakukan hal yang seperti itu. Lagipula,
itu adalah usaha yang ilegal, bukan. Dan anda sendiri merupakan agen dari FBI.
Dan shadow economy adalah salah satu
incarannya.”
“Benar.
Itulah tujuan saya menjadi seorang FBI. Untuk menutupi rahasia ayah saya. Saya
yang ditugaskan oleh mereka untuk mencari para shadow economy lainnya. Tentu saja saya menelusuri semuanya. Dan
itu sangat menguntungkan bagi kami. Dengan menjatuhkan semua shadow economy yang lain, perusahaan ayahku adalah yang
paling kaya dan sukses.”
Astaga.
Aku tidak menyadari telah membocorkan ini. Tak pernah aku menguak pada
siapapun. Tapi pada dia, seakan aku dihipnotis untuk memberitahukan segalanya.
Bagaimana kalau dia memberitahukan ini kepada kepolisian. Habis riwayatku. Tapi
jika dia nekat untuk mengadukan hal ini, maka aku tak akan mengasihini dia.
Jangan salahkan aku jika esoknya dia sudah tak bernapas.
“Baiklah,
saya sama sekali tidak peduli kalau Anda adalah seorang shadow economy atau pengkhianat FBI. Itu urusan Anda. Hanya saja,
saya hendak mengingatkan saja, bahwasannya apa yang Anda lakukan ini akan anda
sesali kelak, bahkan selamanya.”
Aku
diam, mengiyakan kata – katanya. Sebenarnya aku sudah memikirkan ini satu
minggu yang lalu. Aku mulai tidak tenang setiap kali diperintahkan ayah untuk
mengkhianati FBI. Aku takut. Mereka sangat mempercayai dan mendukungku. Juga
untuk hal usaha ayahku yang semakin lama semakin rakus. Aku ingat sekali
kejadian waktu ibu meninggalkan ayah karena tak tahan dengan sikap ayah. Ibu
bersikeras membawaku serta. Ibu takut jika aku mengikuti langkah ayah. Tapi tak
ada hasil. Aku pasrah. Walau apapun itu, aku tetap menyayangi ayah. Perintah
ayah adalah ibadah bagiku.
Aku
keluar kantor dihantar oleh Ali. Walau dia sudah tahu sisi gelapku, dia tetap
ramah padaku. Seakan dia tidak tahu tentang diriku. Sejujurnya aku kagum pada
pemuda ini. Tapi aku menepis jauh – jauh rasa itu. Aku tidak boleh terlena.
Aku
pulang disambut dengan cacian ayah yang tidak puas dengan keputusan Ali. Aku
hanya diam, tak kuasa membantah. Kalau aku berani, aku ingin berkata bahwa ayah
adalah seorang pengecut. Dia hanya bisa memerintahku, dan mencaciku tanpa turun
tangan. Padahal yang butuh dia. Bukan aku. Sebagaimana halnya aku yang dulu
mendaftar menjadi anggota FBI. Betapa aku ingin menangis dan menyerah karena
tes dan latihan yang keras terus menghiasi hariku. Namun aku tetap tabah demi
ayahku. Terkadang aku merenung, apa yang telah ayah beri padaku. Selama ini aku
bahagia, mungkin lebih tepatnya memaksa untuk bahagia demi menuruti ayahku.
Aku
hanya penakut. Bukan pemberani seperti yang mereka katakan. Aku juga bodoh. Tak
sejenius seperti yang mereka katakan. Bahkan menghadapi satu orang yang
pengecut pun aku tak mampu.
Esoknya, ayah sepertinya
sudah tenang. Mungkin dia sudah pasrah. Aku menemani ayah yang duduk santai di
ruang tamu. Aku duduk di sampingnya.
“Leenaile, bolehkah ayah meminta sesuatu padamu. Tapi ayah yakin kau akan mengabulkannya seperti kau selalu menuruti permintaan ayah selama ini. Kau memang anak terbaik di dunia.” Hatiku sedikit cemas. Apa yang ayah inginkan. Selama ini jika ayah memerintahku, dia tak meminta izin terlebih dahulu. Tapi ini seperti permintaan khusus. Permintaan yang seakan – akan ayah takut aku tak melaksanakannya.
“Ayah ingin kamu membunuh Ali.”
Kata – kata yang paling menyakitkan yang pernah aku dengar. Bahkan lebih menyakitkan daripada Ayah yang memakiku. Aku hampir menjatuhkan airmata. Ayah, kenapa harus Ali. Aku rela mati daripada harus membunuh Ali. Mungkin aku telah jatuh cinta padanya. Tapi bagaimana aku mengungkapkan pada ayah bahwa aku tak mampu. Ayah pasti akan lebih membahayakan Ali jika tahu tentang perasaanku terhadap Ali.
“Kenapa Ali, ayah? Memang dia menolak ajakan Ayah, tapi dia tidak berbuat apapun apapun, Ayah. Bahkan setelah dia tahu ayah aadalah seorang shadow economy.”
“Leenaile, ada apa denganmu? Tak biasanya kamu menanyakan permintaan Ayah.”
“Leenaile ingin keluar dari genggaman Ayah. Leenaile nggak tahan lagi. Leenaile capek.” Aku bekata sedikit menaikkan nada. Ayah sepertinya terkejut. Apalagi airmataku berhasil tumpah.
“LEENAILE, APA YANG KAMU KATAKAN? MANA AKALMU...”
“Ayah sendiri di mana akal Ayah. Apa sebenarnya yang Ayah inginkan. Kekayaan telah Ayah dapatkan. Apalagi? Leenaile lelah jadi budak kesenangan duniawi Ayah. Leenaile benci Ayah. BENCI. BENCI. BENCI.” Emosiku meninggi. Perasaan kesal yang sekian lama aku pendam keluar juga. Aku lari meninggalkan Ayah yang masih terpaku. Aku menangis di kamar. Aku bingung hendak bertindak apa.
Hatiku mendorongku agar bertemu dengan Ali. Astaga, sepertinya aku benar – benar jatuh cinta padanya. Ah, entahlah. Biarlah aku yang memendam rasa ini. Aku sama sekali tidak pantas jika dipadukan dengan Ali.
Aku menuruni tangga. Aku melihat ayah yang sedang berbicara dengan salah satu tukang pukulnya, Uuy, pemimpin dari tukang pukul keluarga Ivla. Sepertinya mereka membahas sesuatu yang serius. Aku tak dapat mendengar, mereka saling berbisik. Mereka melihatku, lalu diam. Aku semakin curiga. Aku mendekat.
“Ayah, Leenaile mau keluar ya.”
“Kamu tidak boleh keluar, Leenaile. Ayah tidak ingin kamu bertemu dengan Ali.”
Aku ingin melawan, ayah tahu saja kalau aku hendak bertemu dengan Ali. Tapi terlambat. Seseorang telah membiusku dari belakang. Aku pingsan.
Setengah jam kemudian aku terjaga. Kepalaku masih agak pusing. Aku mengingat apa yang terjadi. Aduh, aku tiba – tiba berpikir tentang Ali. Astaga, ALI! Apa yang akan ayah lakukan pada Ali. Aku harus bergegas ke kantor Ali. Aku yakin dia dalam bahaya. Aku membawa pistol dan pisau kecil. Pasti tukang pukul ayah sudah ada di sana. Semoga aku tidak terlambat.
Aku melajukan mobil. Ah, macet. Aku segera keluar dan melompat ke atas mobil di depanku, lalu lompat lagi ke mobil lainnya. Akhirnya aku sampai ke kantornya. Aku lelah, tadi aku sempat keseleo di saat melompat dari tangga pintas jembatan. Tapi aku tak peduli, keselamatan Ali ada di tanganku. Aku harus berjuang. Aku tak ingin kehilangan orang yang aku cintai lagi hanya karena satu orang yang hanya mementingkan kebahagiannya sendiri.
aku lunglai ketika aku telah sampai di pintu depan kantor Ali. Semua berantakan. Dan aku tak melihat satu karyawan pun. Kemana mereka? Dan di mana Ali? Aku waspada masuk ke dalam dengan memegang pistol. Aku masuk ke ruangan Ali. Berantakan. Bahkan lemaari kacanya pecah. Aku menduga bahwa Ali mungkin dikeroyok oleh tukang pukul keluarga Ival. Aku tak tahan membayangannya. Aku memutar otak bagaimana bisa menemukan Ali. Apakah Ali masih hidup. Ayolah, Leenaile. Kau seorang agen. Itu dia. Aku seorang agen. Aku meraih telfon genggam dauratku. Aku menekan kode untuk menghubungi kepolisian terbesar di sini. Ini adalah kasus yang besar.
Setelah aku menjelaskan semua kejadian, mereka segera mengiim pasukan. Aku mengomando mereka. Haon, salah satu polisi yang berasal dari LAPD, membantuku untuk menyiasati. Dia sebenarnya sangat gemas jika di hadapkan oleh seorang shadow economy. Dia akan mengejarnya sampai dapat. Sebenarnya itu dikarenakan dendam masa lalunya. Ayahnya dibunuh kelompok mafia shadow economy. Aku telah membongkar rahasia yang selama ini aku perjuangkan agar tidak terbongkar. Tapi sekarang tidak lagi. Aku adalah Leenaile Eelanel. Aku seorang FBI. Maka apapun itu, aku harus membela yang benar.
“Excuse me, this the place there are.” Hebat. Cepat sekali. Dia seharusnya sudah menjadi FBI sebagai penyerang rahasia. Aku melihat di layar yang dia tunjukkan. Untungnya aku memberikan kode pelacak untuknya. Walau dia bingung ketika menerimanya. Aku memberikannya hanya ingin bisa memantaunya selalu saja. Begitulah cinta. Aku segera masuk ke dalam mobil, mengajak pasukan yang lain. Aku memandu dengan kecepatan maksimal. Haon tegang. Mungkin dia tidak terbiasa dengan tugas eksternal sepertiku. Sepertinya dia internal. Aku hanya tersenyum, lalu menancap gas lebih cepat lagi.
Dua puluh menit kemudian, kami telah sampai ke tempat lokasi. Tempat ini gersang sekali walau di pedesaan. Sepertinya ini desa yang terlupakan atau sudah hilang. Tapi di sudut mana mereka berada?
“Semua! Cari mereka sampai dapat. Jika ada tanda – tanda atau apapun itu, silahkan kirim pesan pada yang lainnya.” Perintahku lantang.
“SIAP!” jawab mereka tegas dan serentak. Aku mencari dengan panik. Juga gelisah menungguu pesan, barangkali ada yang menemukan petunjuk. Hampir aku menangis, aku melihat sebuah dompet. Aku segera mengambilnya. Aku melihat ada sebuah foto di dalamnya. Tunggu, ini adalah foto ibuku. Tapi, ini dompet Ali. Ah, apa lagi ini.
Belum
habis kebingunganku, terdengar suara tembakan dari arah selatanku. Aku segera
ke sana. Aku melihat para tukang pukul ayah yang sedang menjaga sebuah rumah
megah. Bahkan lebih mewah daripada rumahku. Aku memberikan aba – aba agar
pasukanku masuk dengan hati – hati. Jangan terburu – buru menyerang sebelum aku
titahkan. Aku meneliti setiap sudut. Depan gerbang sudah diamankan oleh
pasukanku yang lain. Aku tinggal masuk. Aku tidak menemukan apa – apa di sini.
Bahkan ali. Di mana dia. Aku naik ke atas. Astaga, aku melihat ayahku yang
terkapar lemah di dalam suatu ruangan. Tak ada darah. Hanya ada serpihan kaca
yang pecah. Aku berpikir mungkin Ali selamat. Tapi di mana dia. Aku melihat
sekitar ruangan yang sangat luas ini. Di dinding, banyak sekali bingkai foto.
Aku melihat foto ibu yang anggun duduk di sebuah perahu yang indah.
Disebelahnya,
ada foto ibu dengan seorang laki – laki. Aku tidak menganalnya. Ayah tersadar.
Aku panik menolongnya. Beberapa tukang pukul ayah datang ketika aku
berteriak minta tolong. Mereka terkejut dengan keadaan ayah. Mereka tidak tahu
ayah separah ini, dan ulah siapa.
Setelah
ayah dihantar ke rumah sakit untuk pengobatan, aku di sidang oleh pihak
kepolisian. Aku tahu ini pasti akan besar masalahnya. Apalagi aku adalah
seorang agen yang berkhianat. Ayah akan langsung dimasukkan ke dalam penjara
jika telah sembuh. Sementara aku, masih menjalankan sidang dahulu untuk menentukan
hukuman untukku.
***
Setelah
sebulan, hukuman untukku akhirnya ditentukan. Aku hampir stres menghadapi
mereka. Tapi mereka memaklumiku. Karena aku bisa jujur diakhirnya. Aku dihukum
untuk vakum sementara dari FBI selama tiga tahun. Selama itu juga, fasilitasku
dari FBI, juga fasilitas ayah di tahan oleh pemerintah. Ayahku ternyata bukan
hanya seorang pengusaha gelap yang lincah bersembunyi. Tapi juga pembunuh yang
sadis. Tidak hanya para shadow economy yang dia berantas. Dia juga memberantas para
pengusaha legal lain yang mengalahkan dia. Dan itu semua tanpa aku tahu.
Entah
apa yang aku lakukan tiga tahun ke depan. Aku mencari Ali. Tapi dia hilang
secara tiba – tiba. Ayah mengaku bahwa dia sama sekali tidak tahu keberadaan
Ali. Setelah Ali menyelakai ayah sampai pingsan, dia pergi entah ke mana. Dia
berharap dia masih hidup. Aku ingin dia mengubah hidupku, sebagaimana dia telah
mengubah hari – hariku.
Komentar
Posting Komentar